Selasa, 06 April 2010

Akhlak Islam Cerminan Aqidah Islam

Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung” (Al qalam : 4). Adakahorang yang tidak menyukai perhiasan ? jawaban pertanyaan ini jelas, bahwa tidak ada seorangpunmelainkan ia menyukai perhiasan dan senang untuk tampil berhias di hadapan siapa saja. Karena itukita lihat banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dirinya. Ada yang lebihmementingkan perhiasan dhahir (luar) dengan penambahan aksesoris sepertipakaian yang bagus, make up yang mewah dan emas permata, sehingga mengundang decak kagum orang yang melihat. Adapula yang berupaya memperbaiki kualitas akhlak, memperbaiki dengan akhlak islami.

Yang disebut terakhir ini tentunya bukan decak kagum manusia yang dicari, namun karenakesadaran agamanya menghendaki demikian dengan disertai harapan mendapatkan pahala darisubhanahu wa ta’ala. Kalaupun penampilannya mengundang pujian orang, ia segeramengembalikannya kepada Allah karena kepunyaan-Nyalah segala pujian dan hanya Dialah yang berhak untuk dipuji.

ISLAM MENGUTAMAKAN AKHLAK

Mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kitamengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaahdan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Sehingga tidakdapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan awwam, seperti ucapan : “Wah udah ngerti agama kok kurang ajar sama orang tua.” Atau ucapan : “Dia sih agamanya bagustapi sama tetangga tidak pedulian.”, dan lain-lain.

Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun yang semisal dengan ini menjadi cambuk bagi kitauntuk mengoreksi diri dan membenahi akhlak. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islammemang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkarapenyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasiakhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorangbertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhidseseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlakburuk berarti lemah tauhidnya.

RASUL DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK

Muhammad shalallahualaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4. bahkan beliaushalallahualaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untukmenyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untukmenyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad, lihat Ash Shahihah oleh Asy Syaikh al Bani no.45 dan beliaumenshahihkannya).

Anas bin Malik radhiallahuanhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahualaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahualahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuhsutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahualaihi wasallam. Saya jugabelum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahualaihi wasallam. Selamasepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahualahi wa sallam, belum pernah saya dibentakatau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidakmengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakanoleh rasulullah shalallahualaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialahterbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahuanhu, diriwayatkan juga olehDisahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dandari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahuanhuma disebutkan : “Sesungguhnyasebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”

KEUTAMAAN AKHLAK

Abu Hurairah radhiallahuanhu mengabarkan bahwa suatu saat rashulullah pernah ditanya tentangkriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahualaihi wasallam menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkanoleh Imam Ahmad. Lihat Riyadus Sholihin no.627, tahqiq Rabbah dan Daqqaq).

Tatkala Rasulullah shalallahualaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahualahiwasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untukbergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwarashulullah shalallahualaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkauberada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupikejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: haditshasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali).

Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda rasulullah shalallahualaihi wa sallam : “ Sesuatu yang paling berat dalammizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan Al Bani. Lihat ash Shahihah Juz 2 hal 535). Juga sabda beliau : “ Sesungguhnya sesuatuutama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan al Bani. Lihat Ash Shahihah juz 2 hal.535).

Dari Jabir radhiallahuanhu berkata : Rashulullah shalallahualaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di harikiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan jugaoleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Ash shahihah Juz 2 hal 418-419).

Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambilakhlak yang baik sebagaiperhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbangmenurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuatmanusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.

Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkankemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Wallahu Ta’ala a’lam.

Sumber: www.mediamuslim.info

Tidak ada komentar:

Posting Komentar